“ Sore
itu kulihat langit di dominasi oleh awan kelabu, cahaya matahari tampak murung
di balik awan kelabu. Atmosfir sendu menyeruak dan masih kental hingga sore
ini. Masih belum terasa segar untuk bernafas, masih terasa berat dan
terbat-bata untuk berfikir “bagaimana hari esok” “
guys !
itu yang di atas potongan cerita yang gue buat dan bertemakan kesenduan,
memang lebay tapi lumayan membuat orang
terhanyut dalam drama-nya. Oke nama
gue Wandra Adi Nugraha Martanegara. Panajang banget kan tuh nama? Aga sedikit
nama-nama kraton ? emang bener kata nenek gue, kalo moyang gue itu adalah
keturunan krajaan di jawa sana. Tapi terserah lah, mau gue keturunan jawa atau
keturunan manapun yang jelas yang nentuin gue sukses dan kaya bukan keturunan
tapi berkat usaha gue sendiri, gue bakalan buktiin itu.
Terasa
sangat ber-optimis? Ya memang harus, karena kita harus menatap dunia ini dengan
penuh optimis dan full sprit. Itu kalo orang barat bilang, kita mau jadi
debu, atau kita mau jadi sesuatu yang berguna di dunia ini, itu semua ada
ditangan kita.
Oke
sedikit kata pembukaan yang penuh semangat dari gue, semoga pesan semangat ini
bias tersampaikan kepada semua yang membaca ini :D
Ini
tentang gue lagi, ga bosen kan? Hahah gue siswa dari sekolah menengah kejuruan
di daerah cianjur. Sekolah gue adalah salah satu sekolah SMK terfavorit di kota
yang sederhana ini. Jelas tentang fasilitas yang cukup memadai dan bisa
dibilang bertaraf internasional. Jelas juga bayaran yang diwajibkan juga sangat
membuat orang tua gue kewalahan menyekolahkan gue di sekolah ini. Wajar background keluarga gue bukan dari
keluarga yang tinggi dan apa kata orang itu kaya akan materi. Tapi meskipun
begitu keluarga gue ini sangat kaya akan kasih sayang. Itu yang gue akan
pertahankan.
Dan alasan
kenapa gue masuk SMK, karena gue ingin mandiri dan bisa cepat-cepat berbalas
budi kepada orang tua gue. Gue ingin cepet cepet bisa liat orang tua gue turun
dari pesawat dengan pemberangkatan asal dari Arab Saudi, eiiitttss tapi bukan
jadi TKW yaa, hahah. Tapi turun dari pesawat dengan gelar Haji dan Hajah.
Amiinn. Itu menjadi alasan juga kenapa gue sebegitu optimis, karena gue ingin
beri yang terbaik dan menjadi berguna atas takdir yang tuhan berikan ke gue.
Oke
mungkin cukup ya pendefinisian tentang gue ini, langsung aja scenario dimulai !
“wandra,
“ terdengar suara merdu pagi yang sayup sayup gue dengar karena tertutup
bantal.
“Wandra, “ sekali lagi gue dengar suara pagi yang merdu,
tapi sekarang
“WANDRA, CEPET BANGUN !!!!” suara itu berubah manjadi badai
yang menghempaskan fatamorgana keindahan pagi hari di atas kasur. seketika gue
terbangun ketika pintu kamar dibuka dengan keras oleh si nyokap. Memang terasa
kesal, masa gue mau marah, tar judul cerita ini menjadi “Malin Kundang Modren
tang dikutuk diatas kasur” -_- kan ga asyik,
Tapi
badan ini terasa malas dan sulit untuk digerakan, mungkin tidur 5 menit lagi
tak apa. Ketika gue ingin merebahkan lagi kepala ini diatas bantal yang sudah
terukir beribu-ribu pulau atas nama gue, tapi langkah kaki keras datang bagai
tsunami yang menghempaskan Sumatra dan sekitarnya. Segera gue keluar kamar dan
menuju kamar mandi, sebelum badai jutaan knot datang yang gue sebut “bentakan
mamah” itu menghantam dan meluluh lantahkan pagi hari yang cerah ini.
Dengan
santai gue nangkring di atas kloset sambil mengumpulkan keping keping
kesadaran, karena hempasan badai tadi di kamar. Tapi satu pekerjaan menanti,
dengan penuh tenaga dan semangat pagi hari yang masih fresh, gue tekan dan
hempas satu demi satu dan keluar.
“Ahhhhh…….. “ seraya Poof yang
keluar dari pantat gue dan meluncur ke kloset.
Salah satu sensasi yang menjadi
rutinutas pagi hari gue di kamar mandi, memang tak banyak orang sadar akan
sensasi yang dirasakan ketika “itu” keluar dari pantat, dan malahan kebanyakan
orang enggan membicarakan ke-sensasian hal tersebut, kenapa mereka tak mau
berbagi ya? Aku tak mengerti.
setelah gue rada mikir dan meresapi
ke-sensasian, gue lanjutin tahap-tahap mandi dengan santai sambil sedikit
melatih vocal gue yang merdu, tapi selalu dikritik oleh siapapun yang
mendengar, mungkin mereka yang kurang tau seni dan keabstrakan seni itu
bagaimana. Dan kebenaran gue terbuktikan, tak lama kemudian suara seperti
kekesalan
“WANDRA, CEPAT JANGAN MENJERIT TAK
KARUAN? KAMU INI MANDI ATAU BUAT KAMAR MANDI, LAMA AMAT. CEPET INI UDAH JAM 7.”
Kritikan langsung datang dari mamah yang lagi sibuk dengan
rutinitas pagi hari. memang selera bercanda mamah tinggi, kayanya kalo audisi
jadi pelawak di salah satu acara yang sering tayang malah hari mungkin mamah
akan diterima.
Bentar
guys, tadi Nyokap gue bilang kalo sekarang udah jam 7? Gue baru sadar, segera
dengan gesit, gue selesain urusan di kamar mandi ini dan langsung menuju kamar.
Tapi tanpa gue sadari shampoo di atas kepala belum terbilas, gue balik lagi ke
kamar mandi.
“makanya
kalo dibangunin jangan susah, nah gini jadi kesiangan. Cepet siap-siapnya,
cepet sarapan !” peringatan mamah yang mungkin sudah ratusan kali gue denger di
pagi hari.
Dengan
tergesa-gesa, gue siap-siap memakai baju dan menyiapkan buku pelajaran, dan
semua hal yang akan gue bawa hari ini, segera gue keluar kamar dan pamit.
“mah,
mana bekal makan siang Wandra? “ sambil tergesa-gesa gue menuju dapur.
Ada
yang aneh? Ga usah mikir, emang ini kebiasaan gue selalu dibekali makan siang
oleh mamah. Aku jarang meminta uang untuk jajan istirahat, lebih baik aku makan
makanan rumah yang udah teruji BPOM (terlalu berlebihan? masalah? ) Inget ya,
ini bukan Cerita Wandra ketika masih TK,
“ini
udah mamah siapin, terus ini seperti biasa titip kue ini di kantin semua ada 50
biji, dan awas lupa sepulang sekolah ambil sisanya ya? ”
perkataan mamah seraya menyiapkan kue-kue yang selalu gue
bawa dan dititipin di kantin sekolah. Memang ini pekerjaan sampingan nyokap
gue, yaitu berjualan kue. Ya lumayan lah untuk nambah nambah pemasukan untuk
keluarga.
Dengan
tergesa-gesa gue pamit, dan lari menuju sekolah
“Wandra,, Wandra. Kamu ada yang lupa” teriak mamah dari
dalam rumah.
“ga ada waktu mah …” sambil lari dengan buru-buru.
Memang jarak dari rumah gue menuju sekolah lumayan deket dan
bisa ditempuh dengan jalan kaki. Semoga saja guru hari ini bisa berkompromi dan
menyambutku dengan senyuman.

